ت Taubat
Halaman 3 dari 8

Tingkatan Taubat

Dalam tasawuf, taubat bukan satu keadaan yang datar. Ada yang bertaubat karena takut neraka, ada yang karena malu dilihat Allah, dan ada yang semata-mata karena mengagungkan keagungan-Nya. Inilah tangga-tangganya — sekaligus cara membaca di mana kaki kita berpijak.

Tiga Tingkatan: Awam, Khawas, Khawasul Khawas

Para guru sufi membedakan tingkatan taubat berdasarkan objek yang ditaubati. Semakin halus yang ditinggalkan, semakin tinggi tingkatannya.

Tingkat 1

Taubat Awam (taubat al-‘āmm)

Bertaubat dari dosa-dosa lahiriah dan perilaku terang-terangan: berbohong, mencuri, berzina, meninggalkan salat, meminum khamar. Inilah taubat yang paling umum dan menjadi pintu masuk semua orang.

Tingkat 2

Taubat Khawas (taubat al-khāshsh)

Bertaubat dari dosa-dosa batin: hasad (iri dengki), kesombongan, riya, ujub, cinta dunia yang berlebihan, dan kelalaian dalam mengingat Allah. Bukan lagi soal anggota badan, melainkan soal hati.

Tingkat 3

Taubat Khawasul Khawas (khawāshil-khawāsh)

Bertaubat dari segala sesuatu yang menghalangi antara hamba dan Allah — termasuk dari kelalaian sekecil apa pun. Pada tingkat ini, satu momen tanpa kesadaran akan kehadiran Allah pun dipandang sebagai cacat yang perlu ditaubati.

“Taubatnya orang-orang awam adalah taubat dari dosa-dosa, sedangkan taubatnya orang-orang khusus (khawas) adalah taubat dari kelalaian mereka untuk mengingat Allah.”

Dzun Nun al-Misri

Dzun Nun menambahkan satu tingkat lagi di atasnya: taubat orang yang meninggalkan kebaikan dan ketaatan karena memandangnya sebagai milik diri sendiri. Sebab memandang amal sebagai hasil usaha sendiri adalah bentuk kelalaian dari menyadari bahwa semuanya anugerah Allah. Sedangkan menurut ucapannya yang lain, “dosa bagi al-muqarrabīn (orang yang dekat kepada Allah) merupakan kebaikan bagi al-abrār” — apa yang tampak kecil bagi orang biasa bisa menjadi pelanggaran besar di mata orang yang lebih dekat kepada Allah.

Pembagian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani membagi taubat menjadi dua: taubatnya orang awam dan taubatnya orang khawash.

Taubat al-‘āmm

Berhentinya seorang hamba dari berbuat dosa, kembali menjalani ketaatan, berpindah dari sifat tercela menuju sifat terpuji, dari jalan neraka ke jalan surga; dari mengikuti kemauan jasad kembali melatih diri dengan zikir dan menempuh perjalanan ‘ubudiyah sekuat-kuatnya.

Taubat al-khāshsh

Taubat yang dilakukan setelah mampu menjalani taubat al-‘āmm. Yakni bertaubat dengan cara:

  • Meninggalkan amal-amal derajat menuju amal-amal tingkat ma‘rifat — dari beribadah sekadar rutinitas ke beribadah dengan pengenalan akan Allah.
  • Meninggalkan amalan derajat (yang berorientasi pahala) menuju amalan al-qurbah (yang berorientasi kedekatan).
  • Beralih dari kenikmatan jasmani menuju kenikmatan ruhani.

Inti dari taubat ini adalah fokus meninggalkan segala sesuatu selain Allah; fokus agar dapat bermesra-mesraan (unsiyah) dengan Allah dan memandang-Nya dengan penglihatan yang penuh keyakinan.

Dari taubat ke maqam

Hampir semua sufi menempatkan taubat sebagai tempat perhentian pertama dalam menuju jalan Allah. Imam Al-Ghazali pun membuka perjalanan itu dari maqam taubat. Artinya taubat bukan gerbang sekali lewat: ia menjadi dasar yang menopang zuhud, sabar, tawakal, ridha, mahabbah, hingga ma‘rifat.

Empat Tingkatan Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali melihat tingkatan taubat dari keadaan dan sikap orang yang bertaubat. Beliau membaginya menjadi empat tingkat — dan dua tingkat terakhir diwarnai peringatan yang serius.

  1. Taubat nasuha — istiqamah sampai akhir usia

    Orang yang bertaubat dan terus tetap bertaubat hingga akhir usianya. Di dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan dosanya — dengan pengecualian atas kekeliruan yang menurut kebiasaan manusia sulit dihindari. Inilah kemantapan dalam taubat, taubat yang mampu menasihati dirinya sendiri, dan pelakunya memiliki jiwa yang tenang (nafsul muṭma’innah).

  2. Tergelincir tanpa dorongan hati — nafsu lawwamah

    Orang yang bertaubat tetapi belum dapat melepaskan diri dari berbagai dosa yang menghinggapinya. Dalam hatinya sama sekali tidak terketuk untuk berbuat dosa, namun keadaan memaksa ia terjebak. Saat dosa menghampirinya, saat itu pula ia bertaubat dan benar-benar menyesalinya. Ini jiwa yang selalu menyesal (nafsul lawwāmah). Nilainya tinggi, tetapi mutunya lebih rendah dari tingkat pertama.

  3. Dikalahkan syahwat dengan kesadaran — nafsu musawwalah

    Orang yang pada saat-saat tertentu dikalahkan nafsu syahwatnya dengan melakukan beberapa kemaksiatan, dan ia sadar bahwa kemaksiatan itu dilakukan dengan sengaja karena tidak mampu mengekang syahwatnya. Pada waktu yang sama ia tetap menunaikan ketaatan dan meninggalkan sebagian dosa besar. Ia berkeinginan lepas dari dorongan itu, dan menyesali dirinya setelahnya. Kekuatan nafsunya kadang berimbang dengan imannya.

  4. Taubat sementara lalu kembali — nafsu amarah

    Orang yang bertaubat dengan waktu terbatas, untuk selanjutnya menjerumuskan dirinya kembali ke berbagai dosa. Orang semacam ini sama sekali tidak menyesali perbuatannya dan tidak ada keinginan segera bertaubat. Ini jiwa yang mengajak kepada kejahatan (nafsu amārah bissū’).

Peringatan Al-Ghazali Tingkat ketiga dan keempat dikhawatirkan berujung pada sū’ul khātimah — penghabisan yang buruk. Karena itu segera naikkan taubat kita dari sekadar penyesalan sesaat menuju istiqamah.

Tiga Tahap Batin: Ta’ib, Munib, dan Awwab

Muhammad Amin Kurdi dalam kitab Tanwīrul Qulūb fī Mu‘āmalatil ‘Allāmil Ghuyūb menyebutkan tiga tingkatan orang dalam memupuk kesadaran kembali ke jalan yang benar. Tingkatan ini diukur dari motif taubatnya — bukan dari berapa banyak dosanya.

TahapMotif kembali kepada AllahCiri
Ta’ib (tā’ib) Khā’ifan min ‘adzābillāh — karena takut kepada siksa Allah. Tingkat terendah, tetapi sah dan menjadi pintu masuk. Banyak orang berhenti di sini.
Munib (munīb) Ḥayā’an min naẓrillāh — karena malu dilihat oleh Allah. Tingkat menengah. Rasa malu mulai mengalahkan rasa takut; ibadah tumbuh lebih halus.
Awwab (awwāb) Ta‘ẓīman li jalālillāh — karena ingin mengagungkan kemuliaan Allah. Tingkat tertinggi. Taubat berjalan bukan demi menghindari hukuman, melainkan demi keagungan Dzat yang dituju.

Perhatikan urutannya: takut → malu → takzim. Bila kita masih takut, jangan berkecil hati; Nabi ﷺ bersabda, “al-īmānu ... ” — dan para ulama mengingatkan bahwa takut yang membawa ketaatan jauh lebih baik daripada berani melakukan maksiat. Tahap tertinggi dicapai bukan dengan melompat, tetapi dengan syarat bertaubat yang benar dan dzikir yang dijaga.

Kaitan dengan Tingkatan Jiwa (Nafsu)

Sebagian sufi menyandingkan tingkatan taubat dengan tingkatan jiwa. Semakin ringan nafsu menguasai, semakin tinggi mutu taubat yang mampu dijalani.

JiwaSifatKaitan dengan taubat
Nafsu amārah bissū’ Selalu mengajak kepada kejahatan; menyukai keburukan dan menjauhi kebaikan. Taubatnya rawan sementara; perlu pertobatan yang lebih keras dan perlunya guru.
Nafsu musawwalah Memerintah diri; iman kadang berimbang dengan syahwat dan menang bergantian. Bertaubat, tergelincir, menyesal, lantas bertaubat lagi.
Nafsu lawwāmah Jiwa penyesalan; selalu menyesal atas dosa, padahal dosa bukan dorongan hatinya. Taubatnya berjalan terus karena kepekaan hatinya tinggi.
Nafsul muṭma’innah Jiwa yang tenang dan mantap dalam kebaikan. Taubat nasuha yang istiqamah hingga akhir usia.

Uji Diri: Di Mana Posisi Kita?

Beberapa pertanyaan sederhana untuk menakar tingkat taubat kita hari ini:

  • Apakah kita sudah berhenti dari dosa lahir yang paling sering kita kerjakan, atau baru berhenti dari yang mudah saja?
  • Apakah kita juga menyesali dosa batin: iri, riya, sombong, ghibah?
  • Apakah taubat kita karena takut siksa, karena malu, atau karena takzim kepada Allah?
  • Apakah kita masih memelihara keinginan mengerjakan dosa itu “suatu hari nanti”?
  • Apakah hak orang yang pernah kita zalimi sudah dituntaskan?
  • Apakah ibadah kita terasa lebih mudah sekarang dibanding sebelum bertaubat? Bila tidak, periksa lagi beban dosa yang mungkin masih menempel.

Ingat tujuan akhirnya

Taubat ini tinggi derajatnya di sisi Allah, sebab Allah sendiri berfirman bahwa Dia menyukai orang-orang yang bertaubat. Taubat juga memperbaiki pandangan kita kepada orang lain — cermin hati yang bersih akan menghasilkan ḥusnuzhan, bukan suuzan yang terus-menerus. Lihat pembahasan lanjutannya di halaman Hikmah.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

QS. Al-Baqarah [2]: 222