ت Taubat
Halaman 5 dari 8

Kisah Taubat Para Sufi

Banyak dari tokoh besar tasawuf justru memulai perjalanannya dari titik terendah: perampok, pemabuk, pangeran yang lalai. Mereka menjadi bukti hidup bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, dan tidak ada manusia yang terlalu jauh untuk kembali.

Fudhail bin ‘Iyadh: Perampok yang Diluluhkan Satu Ayat

Sebelum dikenal sebagai ulama besar, ahli hadis, dan imam dalam kezuhudan, Fudhail bin ‘Iyadh adalah perampok jalanan yang ditakuti di daerah antara Abiwarda dan Sarkhos. Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Īmān menuturkan bahwa pada suatu malam ia memanjat tembok rumah seorang gadis yang dicintainya. Di atas tembok itu ia mendengar seseorang membaca ayat:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Alam ya’ni lil-ladzīna āmanū an takhsya‘a qulūbuhum li dzikrillāh

“Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”

QS. Al-Hadid [57]: 16

Fudhail langsung bergumam: “Tentu saja, wahai Rabb-ku. Sungguh telah tiba saatku.” Ia pun membatalkan niatnya dan beristirahat di sebuah bangunan rusak. Malam itu lewat sekelompok musafir; sebagian berkata, “Kita berhenti sampai pagi, sebab Fudhail ada di jalan kita — ia akan merampok kita.” Mendengar itu Fudhail merenung: aku sedang bermaksiat di malam hari, sementara kaum muslimin di sini ketakutan karenaku. Ia lalu berdoa: “Ya Allah, sungguh aku bertaubat kepada-Mu, dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram.”

Setelah bertaubat dan menuntut ilmu, jabatannya di sisi ulama berubah total. Adz-Dzahabi menyebutnya “al-imām al-qudwah ats-tsabt, syaikhul Islam”; Ibnu Hajar menyebutnya “tsiqah, ‘ābid, imām” — terpercaya, ahli ibadah, ulama besar.

Sumber Al-Baihaqi, Syu‘ab al-Īmān no. 7316; juga dikutip Adz-Dzahabi dalam Siyar A‘lām an-Nubalā’ 8/421.

Malik bin Dinar: Dari Penjaga yang Mabuk Menjadi Tabi’in Agung

Malik bin Dinar (Abu Yahya al-Basri) hidup semasa Imam Hasan al-Bashri dan sempat berjumpa sahabat Nabi, Anas bin Malik r.a. Ia meriwayatkan sekitar empat puluh hadis yang menjadi bagian dari Shahih Bukhari. Tetapi kisah awalnya jauh dari kesan saleh.

Ia menuturkan sendiri sebab taubatnya — sebagaimana diriwayatkan Ibnu Qudamah dalam kitab At-Tawwābīn: ia adalah seorang polisi (penjaga keamanan) yang tenggelam dalam meminum khamar. Ia membeli seorang budak perempuan dengan harga mahal, dan dari budak itu lahir seorang anak perempuan yang amat ia sayangi. Setiap kali ia meletakkan minuman keras di hadapannya, anak kecil itu datang, menariknya, dan menumpahkannya ke bajunya. Ketika usianya menginjak dua tahun, anak itu meninggal — dan kesedihannya luar biasa.

Pada malam pertengahan bulan Sya‘ban, di malam Jumat, ia meneguk khamar lalu tidur tanpa menunaikan salat Isya. Ia bermimpi seakan kiamat telah terjadi: sangkakala ditiup, orang-orang dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan. Di belakangnya ada seekor ular besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya ke arahnya. Ia berlari ketakutan dan bertemu seorang syaikh berpakaian putih, tetapi syaikh itu berkata bahwa ia lemah dan tidak mampu menolongnya.

Di gunung tempat simpanan kaum muslimin, tirai-tirai diangkat dan anak-anak bermuka berseri menengok ke bawah. Di antara mereka ada anak perempuannya yang telah wafat. Anak itu melompat menuju dirinya, memegang tangannya, dan mengusir ular itu. Lalu anak itu duduk di pangkuannya dan berkata:

يَا أَبَتِ، أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

“Wahai ayahku, belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”

QS. Al-Hadid [57]: 16 — sebagaimana dituturkan dalam kitab At-Tawwābīn

Malik bertanya tentang ular yang hendak membunuhnya; anak itu menjawab: “Itulah perbuatan burukmu yang engkau kuatkan, sehingga ia hendak memasukkanmu ke dalam api neraka.” Tentang syaikh yang ditemuinya: “Itulah amal salehmu yang engkau lemahkan sehingga tidak mempunyai daya apa-apa terhadap perbuatan burukmu.” Malik terbangun dalam keadaan ketakutan, lalu menumpahkan seluruh minuman keras, memecahkan wadah-wadahnya, dan bertaubat kepada Allah. Inilah sebab taubatnya.

Sumber Ibnu Qudamah, At-Tawwābīn, hlm. 58 (bab “Tautbah Mālik bin Dīnār”).

Ibrahim bin Adham: Pangeran Balkh yang Melepas Mahkota

Ibrahim bin Adham dikenal sebagai salah satu tokoh zuhud terbesar, dan ajaran-ajarannya tentang tiga syarat taubat banyak dikutip hingga kini. Konon ia lahir dalam keadaan berkecukupan di Balkh dan hidup dalam kemewahan.

Dikisahkan, pada suatu hari ia berburu bersama pengiringnya. Ketika seekor kelinci atau rusa melintas dan ia memacu kudanya, terdengar suara yang menegurnya: “Bukan untuk ini engkau diciptakan, bukan hal ini yang menjadi kewajibanmu.” Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapa pun.

Dalam beberapa riwayat, teguran datang berulang: tiga kali suara itu terdengar, dan pada kali terakhir suara itu berkata lebih keras. Sejak itu Ibrahim meninggalkan kerajaan, kemewahan, dan kudanya; ia menempuh jalan zuhud, menghidupi diri dari kerja kasar seperti memanen dan menjaga kebun. Perubahan hidupnya menjadi salah satu lambang paling tajam dari taubat orang khawas: meninggalkan bukan hanya yang haram, tetapi juga kemewahan yang membuat lupa.

Catatan Versi rinci kisah ini bervariasi antar riwayat; sebagian detail beredar dalam bentuk cerita hikmah. Yang disepakati para penulis biografi sufi adalah perpindahannya yang menyeluruh dari kehidupan istana menuju hidup zuhud.

Bishr al-Hafi: Karena Memuliakan Nama Allah

Bishr bin al-Harits, yang kemudian dikenal sebagai al-Ḥāfī karena kebiasaannya berjalan tanpa alas kaki, juga meninggalkan kehidupan yang jauh dari agama di masa mudanya. Sebab taubatnya dituturkan sebagai berikut.

Suatu ketika ia menemukan selembar kertas bertuliskan nama Allah tergeletak di jalan. Ia memungutnya, memuliakannya, membersihkannya, dan menyimpannya dengan hormat. Malam itu ia bermimpi dan mendengar suara: “Wahai Bishr, engkau telah memuliakan nama-Ku; sungguh demi keagungan-Ku, pada hari kiamat Aku akan memuliakan namamu.” Sejak itu ia berbalik arah total, dan berjalan tanpa alas kaki sebagai bentuk kelembutan hati.

Riwayat lain menuturkan taubatnya terjadi melalui perantara orang saleh di lingkungannya, yaitu al-Ma‘ruf al-Karkhi. Dua versi ini dapat dipadukan: baik rasa hormat pada nama Allah maupun bimbingan seorang saleh sama-sama menjadi sebab hidayah, karena Allah mengatur lantaran-lantarannya.

Pelajaran dari Bishr

Seringkali pintu taubat terbuka dari hal kecil yang kita lakukan dengan hormat: memungut kertas berisi nama Allah, menahan diri dari ghibah sehari, atau menghampiri majelis ilmu sekali. Jangan menunggu peristiwa besar; yang besar justru sering lahir dari kesetiaan pada hal kecil.

Umar bin Khattab: “Preman” yang Makamnya di Samping Nabi

Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal keras dan menakutkan; dalam gambaran populer di majelis, ia disebut sebagai “preman kelas kakap” yang pernah terlibat dalam kekerasan — termasuk kekerasan di lingkungan terdekatnya sendiri. Tetapi setelah bertaubat dan menerima hidayah, tak seorang pun mengingatnya sebagai penjahat.

Ia menjadi salah satu sahabat paling berpengaruh, dipercaya memimpin kaum muslimin, dan dikenang sebagai pemimpin yang adil, dan makamnya berada di samping Rasulullah ﷺ. Di antara warisan ucapannya tentang dunia: “Wahai dunia, bujuklah selain aku.”

Kisah Umar menegaskan satu hal yang ditekankan dalam kajian sumber situs ini: taubat memperbolehkan seorang hamba untuk dekat. Sebab salah satu kalimat Allah adalah fastaghfirūnī — “mohon ampunlah kepada-Ku”. Tanpa taubat, si hamba itu punya salah, sehingga tidak diberi izin mendekat.

Enam Pelajaran dari Kisah-Kisah Ini

1

Hidayah datang lewat lantaran

Sebuah ayat yang terdengar dari balik tembok, mimpi, atau kertas bernama Allah. Kita tidak pernah tahu pintu mana yang Allah bukakan, karena itu jangan menutup pintu dengan menghindari majelis.

2

Amal saleh menyelamatkan

Dalam mimpi Malik bin Dinar, syaikh yang ditemuinya adalah amal salehnya sendiri — sayangnya lemah karena jarang dikerjakan. Sedekah dan istighfar tidak sia-sia walaupun sedikit.

3

Perbuatan buruk menuntut pertanggungjawaban

Ular dalam mimpi itu adalah perbuatan buruknya sendiri. Dosa yang dipelihara menjelma menjadi beban yang mengejar dan menghambat langkah ibadah di dunia.

4

Taubat sering menuntut perubahan total

Fudhail menetap di Baitul Haram; Ibrahim melepas kerajaan. Bukan berarti semua harus ekstrem, tetapi taubat biasanya menuntut perubahan nyata — bukan hanya penyesalan.

5

Masa lalu tidak menentukan akhir

Perampok, pemabuk, dan penindas bisa menjadi imam dalam kezuhudan dan ulama hadis. Penilaian manusia berubah; yang menentukan adalah keadaan akhir (khusnul khatimah) yang kita perjuangkan.

6

Setelah taubat, jangan berhenti

Para tokoh itu tidak berhenti pada “momen tobat”. Mereka mengisi hidup dengan ilmu, riyadhah, dan khidmah. Taubat yang matang berbentuk istiqamah sampai akhir usia.

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka selama mereka beristighfar.”

QS. Al-Anfal [8]: 33

Bila kisah-kisah ini menyentuh hati, ambil satu langkah nyata hari ini: kenali apa yang perlu ditaubati, penuhi syaratnya, dan tutup dengan istighfar. Untuk itu, lanjutkan ke Tata Cara, Syarat & Rukun, dan Dzikir & Doa.